Home / Ekonomi / Nasional

Senin, 31 Oktober 2022 - 13:03 WIB

Spice and Rice Festival Mengusung Kearifan Lokal untuk Keberlanjutan Global

Bagikan

GM – Jakarta – Dalam rangka pengajuan “Jalur Rempah” sebagai warisan dunia (world heritage) ke UNESCO, Yayasan Negeri Rempah bersama Yayasan Taut Seni menyelenggarakan Spice & Rice Festival pada 11-16 November 2022. Festival akan digelar di Bali Collection, ITDC, Nusa Dua, Bali. Ivent itu merupakan bagian dari side event forum pertemuan antar Kepala Negara G20 di Nusa Dua, Bali, yang dikoordinasikan oleh Kementerian Koperasi dan UKM (KemenKopUKM) RI.

Selaras dengan tema side event G20 yaitu “Local Wisdom for Global Sustainability”, Spice and Rice Festival akan mempromosikan kekayaan rempah dan beras Nusantara, di dalam rangka mendorong bergeraknya komunitas masyarakat dan pelaku usaha kecil Indonesia, untuk meningkatkan peluang pemajuan ekonomi rakyat.

Indonesia adalah negeri kepulauan yang terletak di khatulistiwa beriklim tropis, memiliki keanekaragaman hayati tertinggi di dunia (baik di darat dan laut). Hal itu menjadikan Nusantara surga pangan yang tiada habisnya. Salah satunya adalah beras. Sumber pangan itu telah dibudidayakan manusia Nusantara sejak zaman Neolitikum. Setidaknya ada 8.000 jenis padi, tumbuh di Nusantara (Rigg, 2002).

Baca Juga :  Kue Walimah Mencapai Lebih Dari 57 Ribu Buah

Begitu pula dengan rempah. Dari 400-500 jenis tumbuhan yang digunakan sebagai rempah dalam skala dunia, setidaknya 275 jenis rempah merupakan endemik Nusantara (Prosea, 1999). Rempah bukan sekadar bumbu penambah cita rasa makanan. Tetapi juga merupakan bahan utama obat-obatan. Tak pelak, beras dan rempah menjadi komoditas penting yang menjadi mata perdagangan Nusantara dari masa ke masa.

Berkah pangan inilah yang senantiasa disyukuri dan dirayakan oleh seluruh masyarakat Nusantara, dalam berbagai tradisi dan wujudnya. Rempah dan beras hampir selalu ada dalam berbagai ritus kehidupan: kelahiran, perkawinan, kematian, serta sebagai penolak bala bahkan penyucian diri. Tradisi masyarakat Nusantara tak bisa dilepaskan dari pangan, karena bagaimana mereka menjaga dan mengolah pangan merupakan seni kehidupan (art of life) itu sendiri. Seiring dengan jaman yang berubah, pandemi global Covid-19 menjadi momentum yang menyadarkan kita, bahwa ada rantai pengetahuan yang harus dijaga keberlanjutannya, salah satunya adalah kekayaan kosa rasa pangan yang kita miliki.

“Kami ingin menunjukkan pada dunia, bahwa Indonesia memiliki nilai-nilai budaya yang layak dikontribusikan bagi dunia untuk mengakhiri kelaparan, mencapai ketahanan pangan dan nutrisi yang lebih baik, serta mendukung tujuan pembangunan berkelanjutan yang inklusif, berkesetaraan dan berkeadilan bagi semua”, ujar Kumoratih Kushardjanto, ketua Yayasan Negeri Rempah.

Baca Juga :  Sawaludin Bersilaturahim di Desa Boidu dan Lomaya

Sementara itu Andar Manik dari Yayasan Taut Seni menambahkan, nilai-nilai yang direpresentasikan melalui produk-produk pilihan yang dipamerkan dalam kegiatan itu, tidak terbatas pada pangan saja. Tetapi juga beragam ekspresi budaya seperti kesenian yang lahir dari tradisi daerah-daerah penghasil beras dan rempah, baik dari pesisir maupun pedalaman.

Spice and Rice Festival akan menyelenggarakan ‘Jamuan Negeri Rempah’ (tradisi makan bersama khas Indonesia) dan ‘Hidangan Rempah’ (tradisi kuliner daerah-daerah penghasil rempah dan beras). Jamuan makan yang menghadirkan sensasi tradisi makan bersama dari beberapa daerah di Indonesia, diisi dengan megibung (Bali), bajamba (Minangkabau), bedulang (Belitung), botram (Jawa Barat), tumpengan (Jawa), rimo-rimo (Maluku Utara), serta tradisi makan bersama dari Bone (Sulawesi Selatan). Selain jamuan makan bersama khas Indonesia, akan hadir pula hidangan rempah asal India dan Timur Tengah yang menunjukkan jejak keterhubungan budaya yang terbentuk dari jalur rempah dari masa ke masa.

Baca Juga :  Pertama di Gorontalo Wahana Layar Percikan Air Danau Perintis

Festival ini juga akan menghadirkan ‘Warung Jamu’, ‘Pasar Makanan’ (food fair), serta kedai ‘Lisoi’ yang mengangkat aneka minuman fermentasi lokal seperti tuak dan arak, serta produk fermentasi lainnya termasuk kretek.

Jaringan komunitas pelaku UKM turut pula menghangatkan suasana secara gotong-royong melalui ‘Pasarempah Tumpah’ (pasar produk pangan/non-pangan dan makanan/minuman siap saji yang berkaitan dengan tradisi/budaya dari daerah penghasil beras dan rempah), ‘Toko Kelontong’ (toko aneka produk titipan para pelaku usaha kecil yang berasal dari luar Bali), hingga workshop singkat yang memperkenalkan beragam produk budaya dari rempah dan beras.

Pameran Mini akan menampilkan peta Jalur Rempah dan peta sebaran rempah yang dapat memberikan gambaran singkat tentang jejak perdagangan rempah Nusantara. Tak ketinggalan, pelaku seni tradisi dari beberapa daerah di Indonesia turut tampil meramaikan festival.

“Kami ingin menghadirkan kembali spirit kebersamaan yang melekat pada tradisi Nusantara melalui pangannya”, pungkas Kumoratih. (*as/rls)

Share :

Baca Juga

Ekonomi

Pendataan BPS Tidak Terkait Pajak dan Dijamin Aman

Daerah

Inflasi di Kabupaten Gorontalo Diakui Masih Hijau

Ekonomi

Lima Arah Kebijakan Bank Indonesia 2023

Nasional

11 Tahun OJK : Kolaborasi Memajukan Negeri

Nasional

Pertama di Gorontalo Wahana Layar Percikan Air Danau Perintis

Ekonomi

OVID 2022, Membangun Kepercayaan Masyarakat Pada Ekosistem Keuangan Digital

Ekonomi

Keuangan Pemerintah Daerah di Gorontalo Masih Sangat Bergantung Pada Transfer Pemerintah Pusat

Nasional

Sekjen Kemenkumham Terima Penghargaan Pin Emas dari Kapolri