KSM Al-Falah Bangun Pengelolaan Sampah Mandiri

  • Whatsapp
Kelompok Swadaya Masyarakat AL-Falah Desa Mekarwangi, Kecamatan Tarogong Kaler, bangun tempat pengelolaan sampah secara mandiri sejak Januari 2019, Selasa (26/01/2021). (Foto : Ihsan Tadris/ Diskominfo Garut)

GLOBALMEDIA.ID, GARUT, Tarogong Kaler – Masalah sampah adalah masalah yang sangat memprihatikan belakangan ini, banyak warga yang masih membuang sampah secara sembarangan atau bukan pada tempatnya. Bergerak dari kesadaran akan kebersihan lingkungan, Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) Al-Falah Desa Mekarwangi menginisiasi dan membangun fasilitas pembuangan sampah secara mandiri.

Nurjaman (45) selaku ketua KSM AL-Falah, Desa Mekarwangi, Kecamatan Tarogong Kaler, Selasa (26/01/2021) menjelaskan, berawal dari keprihatinannya, ia bersama pengurus membuat inovasi dalam pengelolaan sampah. “Kami sangat prihatin pak, kami bersama pengurus semua, sama rekan-rekan untuk membuat inovasi seperti ini karena prihatin, ternyata banyak orang yang membuang sampah sembarangan tapi Alhamdulillah semenjak ada TPS ini kami masyarakat terbantu dengan adanya TPS ini,” ucapnya.

Muat Lebih

Tempat ini, tuturnya, dibangun sejak tahun 2019 tepatnya di bulan Januari beroperasi, dengan cara mengolah sampah melalui mesin pembakaran. “Yang dibakar melalui mesin pembakaran adalah sampah non organik seperti pelastik dan yang lainnya. Sampah yang dibakar melalui mesin pembakaran akan menghasilkan abu dan menjadi bahan untuk pembuatan pavin blok,” terangnya.

Pemerintah Desa Mekarwangi sangat mendukung inovasi yang telah dibuat warga yang tergabung di KSM Al-Falah, apalagi dengan adanya dukungan tersebut tempat pengeloaan sampah dalam upaya mengurangi pembuangan sampah secara sembarangan yang dilakukan oleh warga. “Alhamdulllah Kepala Desa mendorong kami, dengan adanya ini pemerintah apalagi desa, Kepala Desanya sangat membantu.” ungkapnya

Meski demikian, jalan Nurjaman dan anggotanya tidaklah selalu mulus, tidak adanya mesin pencacah plastik, minimnya operasional, dan keterbatasan mesin menjadi faktor utama pengolahan tidak maksimal sepenuhnya. Bayaran pegawai yang mengelola sampah hanya mengandalkan iuran yang ditarik dari warga sebesar dua ribu rupiah, sehingga hal ini dirasakan kurang untuk mencukupi kesejahteraan pegawai pengelola sampah tersebut.

Nurjaman berharap ke depannya KSM Al-Falah Desa Mekarwangi mempunyai mesin pencacah agar sampah botol plastik bisa diolah sendiri tidak langsung dijual ke pengepul, sehingga mempunyai nilai ekonomi yang lebih. “ini kami sementara ini mesin kami terbatas Pak, kami jual aja ke pengepul lagi, operasional aja kami sangat minim Pak, ini satu bulan itu operasional kami itu hampir habis satu juta setengah dari uang-uang sampah yang bayar dua ribu perminggu delapan ribu per bulan. Harapan ke depanya saya kalau bisa ingin memiliki mesin pencacah, buat mencacah plastik biar kami tidak menjual ke pengepul,” terangnya.

Pos terkait

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *