Konsultan properti: Antisipasi dampak potensi resesi ke sektor ritel

0
5 views
Ilustrasi: Pusat perbelanjaan di Jakarta Utara cederung lengang pada Sabtu sore (12/9/2020) jelang pemberlakuan PSBB total pada Senin, 14 September 2020. ANTARA/Fianda Sjofjan Rassat

GLOBALMEDIA.ID, Jakarta- Konsultan properti Colliers International mengingatkan berbagai pihak mengenai potensi dampak resesi terutama terhadap sektor ritel karena berbagai aspek dapat berpengaruh, termasuk persepsi warga terhadap kondisi perekonomian.

“Resesi sudah jelas bukan hal positif untuk kepercayaan konsumen karena bila resesi, konsumen cenderung mengetatkan prioritas dan mengurangi keseluruhan pengeluaran mereka,” kata Senior Associate Director Retail Services Colliers International Indonesia, Sander Halsema, Selasa, (13/10).

Sander mengemukakan dengan memilih prioritas pengeluaran, maka berdampak negatif terhadap kinerja ritel karena bisa menurunkan tingkat penjualan.

Ia memahami tujuan pemerintah untuk pemulihan ekonomi serta mengapresiasi kebijakan mengizinkan usaha ritel seperti restoran untuk dibuka kembali, meski hanya untuk 50 persen dari total kapasitas.

Tidak hanya bagi konsumen, menurut dia, peritel juga diperkirakan bakal lebih konservatif dalam berekspansi dan lebih fokus ke toko yang berdiri sendiri atau di pinggir jalan dibandingkan di mall.

Sedangkan bagi pihak pengelola pusat perbelanjaan, ia berpendapat penting bagi mereka mengeluarkan inovasi yang fleksibel terhadap keseluruhan tarif terkait jasa penyewaan di mall yang mereka kelola.

Sebelumnya Colliers juga memperkirakan bahwa pemulihan kinerja properti khususnya untuk sektor ritel di berbagai mall atau pusat perbelanjaan wilayah DKI Jakarta diperkirakan baru akan terjadi pada tahun 2021.

“Pemulihan terhadap sektor mall kemungkinan akan terjadi pada 2021, sedangkan PSBB yang diberlakukan sejak pertengahan September akan memberikan dampak yang besar,” kata Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto.

Ia memaparkan total pasok ritel di berbagai mall Jakarta pada saat ini tercatat mencapai sebanyak 4,8 juta meter persegi, hampir 70 persennya dipasarkan untuk disewakan.

Dengan terus melemahnya pendapatan termasuk pembatasan jumlah pengunjung, lanjutnya, peritel dituntut melakukan efisiensi biaya operasional yang berimbas kepada tutupnya beberapa toko ritel besar.

“Jumlah pengunjung dan penjualan diperkirakan sulit untuk menyamai rata-rata angka di masa normal terdahulu. Kondisi ini secara tidak langsung akan menyaring jumlah penyewa. Imbas jangka pendeknya, rata-rata tingkat hunian semakin tergerus karena perlu waktu lama agar jumlah riteler kembali dapat terisi sesuai ekspektasi,” paparnya.

Namun, Ferry meyakini bahwa rata-rata tingkat hunian diperkirakan membaik pada 2021 karena selain pasok yang relatif lebih sedikit, komitmen penyewa mall pada 2020 dan 2021 diperkirakan mulai beroperasi dan dapat mengangkat rata-rata tingkat hunian pada 2021.

Ia juga mengemukakan bahwa proses pemulihan akan memakan waktu lebih lama dikarenakan ikut berdampak pada kondisi ekonomi terutama terhadap daya beli masyarakat akibat banyaknya PHK dan pemotongan gaji.(ANT)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini