Bilik Pengambilan Sample Swab Hemat Pemakaian APD

0
38 views
Ide bisa datang dari mana saja. Bagi Raden Sumiharto yang menjadi salah satu sumber ide nya adalah ketika melihat bagaimana kerepotan istrinya bekerja.“Ide pembuatannya adalah ketika melihat pengambilan sampel itu akan membutuhkan APD yang lengkap. Kebetulan istri saya dinas kedokteran Rumah Sakit Panembahan Senopati bagian paru. Melihat kondisi sepeti itu, saya berpikir bagaimana caranya membuat sebuah sistem yang lebih aman dan nyaman,” ujar Sumiharto.

Doktor yang mengajar di Departemen Ilmu Komputer dan Elektronika Universitas Gadjah Mada (UGM) ini kemudian bekerja sama dengan sejumlah rekannya dari Sekolah Vokasi dan Rumah Sakit Akademik (RSA) kampus yang sama. Terciptalah kemudian “Gama Swab Sampling Chamber”, sebuah bilik yang bisa digunakan tenaga kesehatan untuk mengambil sample terkait virus corona secara aman dan nyaman.

Saat ini, Sumiharto dan rekan-rekan baru membuat dua bilik. Selain di RSA UGM, bilik juga ditempatkan di RS Panembahan Senapati, Kabupaten Bantul, DI Yogyakarta. Sumiharto menambahkan, jika ada pihak-pihak khususnya rumah sakit yang membutuhkan bilik serupa, dapat menghubungi mereka di UGM.

Bilik ini menggunakan rangka alumunium dan dinding akrilik. Di salah satu sisinya, ditempatkan lengan karet tempat tenaga medis memasukkan tangannya dan mengambil sampel pada pasien. Pandangan tenaga medis tidak terhalang apapun, dan dia bisa bekerja secara nyaman. Ujung lengan karet dilapisi sarung tangan, yang akan diganti setiap satu pasien selesai diambil swab.

Bilik Bertekanan Positif

Hera Nirwati, dokter RSA UGM yang terlibat dalam pengembangan bilik ini menjelaskan, salah satu upaya penting menekan penyebaran virus corona adalah diagnosis. Langkah ini dilakukan dengan mengambil sample berupa swab dari bagian nasofaring maupun orofaring. Karena virus ditularkan melalui droplet, kata Hera pengambilan swab harus dilakukan dengan sangat hati-hati agar tidak menyebar ke lingkungan. Idealnya, pengambilan sampel dilakukan di ruang isolasi bertekanan negatif dan petugas kesehatan menggunakan alat pelindung diri lengkap.

Bilik pengambilan sampel pasien ini diletakkan di depan ruang IGD RSA UGM. (Foto: Humas UGM)

 

Bilik pengambilan sampel pasien ini diletakkan di depan ruang IGD RSA UGM. (Foto: Humas UGM)

Masalahnya, baik ruang isolasi bertekanan negatif maupun APD jumlahnya kini sangat terbatas. Karenanya diperlukan inovasi agar tenaga medis tetap bisa melakukan tugas dengan tetap menekan resiko paparan. Lahirlah kemudian bilik pengambilan sampel dengan konsep petugas ada di dalam dan pasien ada di luar. Bilik itu sendiri memiliki tekanan ruang positif.

“Dengan adanya tekanan positif ini maka kalau di luar nanti ada droplet, ada kontaminan, dari pasien maka petugas pengambil sampel akan tetap terlindungi. Sehingga dalam hal ini petugas pengambil sampel tidak perlu menggunakan alat pelindung diri yang lengkap,” kata Hera.

Tidak perlu menggunakan APD adalah konsep penting terkait penanganan virus corona saat ini karena begitu langkanya barang itu di pasaran. Untuk lebih menjamin keamanan, bilik juga dilengkapi hepa filter. Aliran udara yang masuk ke dalam bilik akan melewati alat ini yang mampu menyaring partikel hingga 0,3 mikro dengan efisiensi lebih dari 99 persen.

Tenaga medis yang mengambil sampel usap tenggorokan pasien aman di dalam bilik. (Foto: Humas UGM)

 

Tenaga medis yang mengambil sampel usap tenggorokan pasien aman di dalam bilik. (Foto: Humas UGM)

Pasien yang diambil swab-nya juga akan menjani disinfeksi sebelum beralih ke pasien berikutnya agar semua terlindungi. Selain itu, bilik dilengkapi dengan sinar UV sehingga setelah selesai, semua peralatan di dalamnya juga akan terdisinfeksi.

Para peneliti yang mengembangkan bilik ini berharap pengambilan dapat dilakukan lebih banyak dalam waktu singkat. Lebih dari itu, semua yang terlibat baik tenaga medis maupun pasien dalam kondisi aman dan nyaman ketika menjalani proses tersebut.

Tingkatkan Kapasitas Diagnosa

Direktur Utama RSA UGM, dr Arief Budiyanto mengakui, alat kesehatan dan APD menjadi barang langka saat ini.

“Kalau APD dan alat kesehatan memang kendalanya adalah ketersediaan. Kita boleh punya anggaran tetapi ketika kita membeli indennya lama sekali. Contohnya hepa filter, alat yang untuk menyaring virus dan sebagainya itu, indennya bisa satu sampai dua bulan. Masker N95 itu juga, karena itu produksi dari luar, indennya lama karena semua rumah sakit membutuhkan itu,” kata Arief.

Staf RSA UGM di lini depan melayani pasien dengan APD. (Foto: Humas UGM)

 

Staf RSA UGM di lini depan melayani pasien dengan APD. (Foto: Humas UGM)

Kehadiran bilik ini akan menekan pemakaian APD, sehingga pemakaiannya bisa diprioritaskan untuk bagian-bagian yang sangat penting dalam layanan terkait virus corona. Rumah sakit, kata Arief harus berhemat dan memiliki stok APD yang cukup karena belum diketahui, pandemi ini akan berlangsung sampai kapan.

Faktor lain yang menjadi pendorong kelahiran bilik ini adalah kebutuhan meningkatkan kapasitas diagnosa. Semua pihak memahami bahwa jumlah diagnosa terkait virus corona di Indonesia sampai saat ini masih rendah. Upaya itu coba dikurangi dengan penambahan laboratorium, misalnya di Yogyakarta yang saat ini memiliki tiga lokasi uji sampel. Saat ini, RSA sendiri sudah mampu melaksanakan pemeriksaan PCR dengan dua sampai tiga mesin atas dukungan FKKMK UGM. Hasil uji lab kini bisa keluar dalam dua atau tiga hari, tidak perlu menunggu 10 hari seperti sebulan yang lalu.

Dengan kondisi itu, hanya PDP yang menjalani rawat inap saja yang bisa diambil swab-nya itupun harus antri. Mereka yang masih ODP, apalagi OTG dan pasien rawat jalan tidak bisa mengakses layanan ini.

“Sekarang dengan adanya alat ini, maka kapasitas pemeriksaan swab bisa kita tingkatkan terutama untuk yang rawat jalan dan OTG. Sehingga nantinya diagnostik kapasitasnya bisa ditingkatkan, banyak orang bisa di-swab, dan mudah-mudahan banyak yang negatif,” lanjut Arief. [ns/ab]

[ad_2]

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini