Ditengah Pandemi Corona, Puasa Mengajarkan Sikap Empati

0
233 views

Oleh : Dr. Ijudin, S.Ag., M.Si. (Wakil Rektor Universitas Garut)

GLOBALMEDIA.ID – Kehadiran puasa kali ini sangat berbeda sekali dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, mengingat ummat Islam melaksanakan puasa di tengah merebaknya wabah corona. Pandemi akibat virus corona tidak hanya berdampak pada kesehatan banyak orang, tapi juga berdampak pada ekonomi dan aspek kehidupan lainnya.

Di tengah kondisi seperti ini, Puasa Ramadhan bukan sekadar menahan haus dan lapar, puasa sejatinya juga untuk melatih pengendalian diri dan merasakan penderitaan orang lain. Oleh karena itu, puasa Ramadhan ini harus dimaknai untuk menumbuhkan empati dan membangun solidaritas sosial yang kuat demi membangun Indonesia damai dan sejahtera.

Al-shaum al-ihtimam, puasa itu menumbuhkan perhatian atau rasa empati. Perhatian kepada siapa? Perhatian kepada Allah, dengan semua syari’at dan ajaran-Nya, perhatian kepada semua sunah Nabi-Nya, juga sangat perhatian kepada sesama umat manusia.

Orang yang berpuasa dianggap tidak sempurna imannya, jika ia tidak memiliki rasa empati.

Karenanya, perhatian, rasa empati dan kepedulian adalah diantara syaria’t Allah yang tidak terpisahkan dari syari’at Allah lainnya. Bahkan shalat, puasa dan haji seseorang dianggap dusta jika ia tidak memiliki rasa empati dan kepedulian yang nyata kepada orang-orang yang ada disekitar kita. Oleh karena itu, rasa empati dan kepedulian adalah amaliah nyata yang harus dibangun oleh siapa pun, kapan pun, dan di mana pun, lebih-lebih bagi orang yang sedang berpuasa.

Sikap empati ini pernah dipraktekkan Umar bin Khattab RA, seorang penguasa adil yang mampu dengan baik memberikan kepeduliannya kepada rakyat yang dipimpinnya. Suatu hari, Umar bin Khattab pergi dari rumah untuk mengetahui secara langsung keadaan rakyatnya. Dia bertemu dengan seorang laki-laki yang duduk dengan rasa sedih dan gelisah di pintu mesjid. Umar bertanya, “Ada apa dengan-mu?” Laki-laki itu menjawab, “Istriku hampir melahirkan, tetapi kami tidak memiliki apapun dan tidak seorang pun bersamanya”. Umar menanyakan rumahnya.

Kemudian, dia menunjuk sebuah tenda di pinggiran Kota Madinah. Setelah menemui istrinya, Umar pun mengajaknya langsung, “Maukah kamu memperoleh kebaikan yang Allah antarkan kepadamu?” Istrinya bertanya, “Apa itu ya Amirul Mukminin?” Umar menjelaskan, “Seorang wanita hampir melahirkan dan tidak ada yang menemaninya”. Istrinya pun menyetujuinya.

Umar kemudian mengambil tepung, mentega dan susu kering.

Ketika sampai di tenda. Umar berteriak, “Wahai penghuni tenda”, laki-laki itu keluar dan Umar menyuruh istrinya masuk ke tenda untuk menemui wanita itu, sedangkan ia menyiapkan bejana dengan tepung, mentega dan susu kering lalu Umar meletakkannya di tungku, dia meniup apinya dan mengaduk sendiri isinya. Apa yang ada di dalam bejana belum masak, tetapi telah terdengar tangisan bayi dari dalam tenda. “Ya Amirul Mukminin, sampaikan berita gembira kepada temanmu, anaknya laki-laki”, seru istri Umar. Laki-laki itu terkejut bahagia. Dia berkata: “Kami telah merepotkan dan melelahkan kamu wahai Amirul Mukminin”. Umar berkata, “Tidak apa-apa, besok pagi datanglah kepada kami, kami akan memberimu apa yang kamu perlukan untuk keluargamu”. Keesokan harinya laki-laki itu datang. Umar memberinya unta betina dan makanan yang memenuhi punggungnya. Allahu Akbar, begitulah orang besar mencetak sebuah keteladanan.

Kisah di atas menegaskan, bahwa rasa empati dan kepedulian kepada sesama merupakan ajaran yang sangat mulia, lebih-lebih di tengah kondisi dan situasi sekarang di mana banyak saudara kita yang membutuhkan akibat terdampak wabah korona. Kita yakin dengan sabda Nabi Muhammad SAW, bahwa “Syurga sangat merindukan kepada empat golongan: orang yang membaca al-Qur’an,  orang yang menjaga lisan, orang yang peduli dengan memberikan makanan kepada yang lapar, dan orang yang berpuasa di bulan ramadhan”. Nabi juga pernah bersabda: “Wahai manusia, tebarkan budaya damai, wujudkan kepedualian sosial, bangun solidaritas sosial, biasakan bangun tengah malam, maka engkau akan mendaptkan kenikmatan syurga dengan rasa damai.”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini